Kamis, 22 April 2010

21
BAB V
ETIKA UTILITARIANISME

Pertama kali dikembangkan oleh Jeremy Bentham (1748 - 1832).
Persoalan yang dihadapi adalah bagaimana menilai baik buruknya suatu
kebijaksanaan sosial politik, ekonomi dan legal secara moral.
Singkatnya, bagaimana menilai sebuah kebijaksanaan publik, yaitu kebijaksanaan
yang punya dampak bagi kepentingan banyak orang, secara moral. Bentham kemudian
menemukan bahwa dasar yang paling objektif adalah dengan melihat apakah suatu
kebijaksanaan atau tindakan tertentu membawa manfaat atau hasil yang berguna atau
sebaliknya kerugian bagi orang-orang terkait. Sehingga mereka tidak mendasarkan
penilaian mereka mengenai baik atau buruknya suatu kebijaksanaan berdasarkan apakah
kebijaksanaan atau tindakan itu sesuai atau tidak sesuai dengan nilai atau norma moral
tertentu, melainkan pada akibat, pada konsekuensi atau pada tujuan yang ingin dicapai
oleh kebijaksanaan atau tindakan itu.


1. Kriteria dan Prinsip Etika Utilitarianisme

Dalam kerangka etika utilitarianisme dapat dirumuskan 3 kriteria objektif sekaligus
norma untuk menilai suatu kebijaksanaan atau tindakan.
- Kriteria pertama adalah manfaat, yaitu nahwa kebijaksanaan atau tindakan itu
mendatangkan manfaat atau kegunaan tertentu. Jadi, kebijaksanaan atau
tindakan yang baik adalah yang menghasilkan hal yang baik. Sebaliknya,
kebijaksaaan atau tindakan yang tidak baik adalah yang mendatangkan
kerugian tertentu.
- Kriteria kedua adalah manfaat terbesar, yaitu bahea kebijaksanaan atau
tindakan itu mendatangkan manfaat terbesar (atau dalam situasi tertentu lebih
besar) dibandingkan dengan kebijaksanaan atau tindakan alternatif lainnya.
Kalau yang dipertimbangkan adalah soal akibat baik dan akibat buruk dari
suatu kebijaksanaan atau tindaka, maka suatu kebijaksanaan atau tindakan
dinilai baik secara moral kalau mendatangkan lebih banyak manfaat
dibandingkan dengan kerugian. Atau dalam situasi tertentu ketika kerugian
tidak bisa dihindari, dapat dikatakan bahwa tindakan yang baik adalah tindakan
yang menimbulkan kerugian terkecil (termasuk bila dibandingkan dengan
kerugian yang ditimbulkan oleh kebijaksanaan atau tindakan alternatif).
- Kriteria ketiga berupa manfaat terbesar bagi sebanyak mungkin orang. Jadi,
suatu kebijaksaan atau tindakan dinilai baik secara moral kalau tidak hanya
mendatangkan manfaat terbesar, melainkan kalau mendatangkan manfaat
terbesar bagi sebanyak mungkin orang. Sebaliknya, kalau ternyata suatu
kebijaksanaan atau tindakan tidak bisa mengelak dari kerugian, maka
kebijaksanaan atau tindakan itu dinilai baik kalau membawa kerugian yang
sekecil mungkin bagi sesedikit mungkin orang.

Kriteria yang sekaligus menjadi pegangan objektif etik utilitarianisme adalah manfaat
terbesar bagi sebanyak mungkin orang.
Atau suatu kebijaksanaan atau tindaka yang baik dan tepat dari segi etis menurut etik
utilitarianisme adalah kebijaksanaan atau tindaka yang membawa manfaat terbesar
bagi sebanyak mungkin orang atau sebaliknya membawa akibat merugikan yang
terkecil mungkin bagi sesedikit mungkin orang.

Karenanya etika utilitarianisme mengajukan tiga pegangan, yaitu :
- Suatu kebijaksanaan atau tindakan adalah baik dan tepat secara moral jika dan
hanya jika kebijaksanaan atau tindakan itu mendatangkan manfaat atau
keuntungan. Yang berarti tindakan yang membawa manfaat atau keuntungan
tertentu adalah tindakan yang tepat dan baik secara moral. Sebaliknya,
tindakan yang merugikan adalah tindakan yang tidak tepat tidak baik secara
moral.
ETIKA BISNIS – STIE BUDDHI
2010




22
- Diantara berbagai kebijaksanaan dan tindakan yang sama baiknya,
kebijaksanaan atau tindakan yang mempunyai manfaat terbesar adalah
tindakan yang paling baik. Atau sebaliknya, diantara kebijaksanaan atau
tindakan yang sama-sama merugikan, kebijaksanaan atau tindakan yang baik
dari segi moral adalah yang mendatangkan kerugian lebih kecil atau terkecil.
- Diantara kebijaksanaan atau tindakan y ang sama-sama mendatangkan manfaat
terbesar, kebijaksanaan atau tindakan yang mendatangkan manfaat terbesar
bagi paling banyak orang adalah tindakan yang baik. Atau diantara
kebijaksanaan atau tindakan yang sama-sama mendatangkan kerugian terkecil
bagi paling sedikit orang.

Secara ringkas ketiga prinsip itu dapat dirumuskan sebagai berikut :
” Bertindaklah sedemikian rupa sehingga tindakanmu itu
mendatangkan keuntungan sebesar mungkin bagi sebanyak
mungkin orang ”.



2. Nilai Positif Etika Utilitarianisme

Hal yang menjadi daya tarik tersendiri dari etika utilitarianisme bahwa tidak
memaksakan sesuatu yang asing pada kita, justru mensistematisasikan dan
memformulasikan secara jelas apa yang menurut para penganutnya dilakukan oleh kita
dalam kehidupan kita sehari-hari. Dimana dirumuskan prosedur dan pertimbangan yang
banyak digunakan dalam mengambil sebuah keputusan, khususnya yang menyangkut
banyak orang.
Tiga nilai positif etika utilitarianisme, yaitu :
- Rasionalitasnya. Prinsip moral yang diajukan oleh etika utilitarianisme tidak
didasarkan pada aturan-aturan kaku yang mungkin tidak difahami dan yang
tidak bisa dipersoalkan keabsahannya. Justru ada alasan kriteria yang objektif
dan rasional mengapa suatu tindakan dianggap baik, mengapa seseorang
harus jujur alam bisnis, atau sebaliknya mengapa tidak boleh tidak jujur.
Alasan tersebut bukan sekedar bahwa itu perintah atau aturan moral yang
harus ditaati (tapi mengapa), atau bahwa itu merupakan ajaran agama,
orang tua, nenek moyang, dan seterusnya, melainkan karena ada kriteria
yang dapat diterima dan dibenarkan oleh siapa saja. Siapa saja bisa
menjadikannya sebagai pegangan dan rujukan konkret.

- Etika utilitarianisme sangat menghargai kebebasan setiap pelaku moral. Setiap
orang diberi kebebasan untuk mengambil keputusan dan bertindak sesuai
dengan cara tertentu sesuai dengan yang mungkin tidak diketahui alasannya
mengapa demikian. Otonomi manusia lalu diberi tempat sentral. Jadi tindakan
baik itu kita putuskan dan pilih sendiri berdasarkan kriteria yang rasional dan
bukan sekedar mengikuti tradisi, norma atau perintah tertentu. Orang tidak
lagi merasa dipaksa karena takut melawan perintah Tuhan, takut akan
hukuman, takut akan cercaan masyarakat dan sebagainya, melainkan bebas
memilih alternatif yang dianggapnya terbaik berdasarkan alasan-alasan yang
ia sendiri akui objektivitasnya. Bahkan ia sendiri secara bebas dapat
mempertanggungjawabkan keputusan dan tindakan yang diambilnya itu
kepada siapa saja termasuk dirinya sendiri.

- Universalitasnya. Berbeda dengan etika telelogi lainnya yang terutama
menekankan manfaat bagi diri sendiri atau kelompok sendiri, etika
utilitarianisme justru mengutamakan manfaat atau akibat baik dari suatu
tindakan bagi banyak orang. Suatu tindakan dinilai baik secara moral bukan
karena tindakan itu mendatangkan manfaat terbesar bagi orang yang
melakukan tindakan itu, melainkan karena tindakan itu mendatangkan
manfaat terbesar bagi semua orang yang terkait, termasuk orang yang
melakukan tindakan itu.
ETIKA BISNIS – STIE BUDDHI
2010




23

Will Kymlicka menegaskan bahwa utilitarianisme mempunyai dua daya tarik yang tidak
bisa dibantah, yaitu :
- Bahwa etika ini sangat sejalan dengan intuisi moral semua manusia bahwa
kesejahteraan manusia merupakan hal yang paling pokok bagi etika dan
moralitas, dan
- Bahwa etika ini sejalan dengan intuisi moral kita bahwa semua kaidah moral
dan tujuan tindakan moral manusia harus dipertimbangkan, dinilai, dan diuji
berdasarkan akibatnya bagi kesejahteraan manusia.


3. Utilitarianisme sebagai Proses dan sebagai Standar
Penilaian

Dua wujud pemakaian etika utilitarianisme secara umum, adalah :
• Pertama, dipakai sebagai proses untuk mengambil sebuah keputusan,
kebijaksanaan, ataupun untuk bertindak. Etika ini dipakai sebagai prosedur dan
metode untuk mengambil keputusan yang tepat tentang tindakan atau
kebijaksanaan yang akan dilakukan.
Dalam wujud yang pertama, etika utilitarianisme dipakai untuk penyusunan
program atau perencanaan untuk mengatur sasaran dan target yang hendak
dicapai.


• Kedua, etika utilitarianisme juga dipakai sebagai standar penilaian bagi tindakan
atau kebijaksanaan y ang telah dilakukan. Etika ini dipakai sebagai standar
penilaian bagi tindakan atau kebijaksanaan yang telah dilakukan. Dalam wujud
kedua, etika utilitarianisme sangat tepat untuk evaluasi kebijaksanaan atau proyek
yang sudah dilakukan. Dengan kata lain, dalam membuat perencanaan, kriteria
etika utilitarianisme sebagai tujuan dapat digunakan sekaligus sebagai standar
penilaian bagi kegiatan sebagai perealisasi rencana tersebut sebagai baik atau
tidak.


4. Analisis Keuntungan dan Kerugian

Etika utilitarianisme banyak dipakai secara sadar atau tidak dalam kebijaksanaan-
kebijaksanaan politik, ekonomi, sosial dan semacamnya yang menyangkut kepentingan
umum.

o Dalam bidang ekonomi
Relevan dalam konsep efisiensi ekonomi. Prinsip ekonomi menekankan agar
dengan menggunakan sumber daya (input) sekecil mungkin dapat
dihasilkan produk (output) sebesar mungkin. Dengan menggunakan
sumber daya hemat harus bisa dicapai hasil sebesar mungkin. Karenanya,
semua perangkat ekonomi harus dikerahkan sedemikian rupa untuk bisa
mencapai hasil terbesar dengan menggunakan sumber daya sekecil
mungkin. Ini prinsip dasar etika utilitarianisme.

o Dalam bidang bisnis
Etika utilitarianisme juga mempunyai relevansi yang sangat kuat. Secara
khusus etika ini diterapkan secara sadar atau tidak, diperusahaan yang
dikenal dengan the cost and benefit analysis (analisis biaya dan
keuntungan). Yang intinya berarti etika ini digunakan dalam perencanaan
dan evaluasi (atau penjualan, diversifikasi, pembukaan cabang,
penambahan tenaga, penambahan modal, dan seterusnya.

ETIKA BISNIS – STIE BUDDHI
2010




24
Satu hal pokok yang perlu dicatat sejak awal adalah baik etika utilitarianisme maupun
analisis keuntungan dan kerugian pada dasarnya menyangkut kalkulasi manfaat.
Karenanya, etika utilitariaisme sangat sejalan dengan hakikat dan tujuan bisnis untuk
mencari keuntungan. Hanya saja dikenal sebagai manfaat (utility), sedangkan dalam
bisnis lebih sering diterjemahkan sebagai keuntungan. Sasaran akhir yag hendak dicapai
t6ak lain adalah the greatest net benefits atau the lowest net costs.


Intinya, kebijaksanaan ataupun tindakan apapun yang diambil oleh sebuah
perusahaan harus punya sasaran akhir, dalam batas-batas yang bisa diukur,
mendatangkan keuntungan keseluruhan paling besar dengan menekan biaya keseluruhan
sekecil mungkin. Sebaliknya, suatu kebijaksanaan atau tindakan yang telah diambil
perusahaan dinilai baik kalau dan hanya kalau kebijaksanaan atau tindakan itu
mendatangkan kerugian keseluruhan sekecil mungkin.

Beberapa hal penting yang perlu mendapat perhatian, terutama jika analisis keuntungan
dan kerugian itu ditempatkan dalam kerangk a etika bisnis, yaitu :

Pertama, keuntungan dan kerugian (costs and benefits), yang dianalisis jangan
semata-mata dipusatkan pada keuntungan dan kerugian bagi perusahaan, kendati
benar bahwa ini sasaran akhir. Juga perlu mendapat perhatian adalah keuntungan
dan kerugian bagi banyak pihak lain yang terkait dan berkepentingan, baik kelompok
primer maupun sekunder.
Jadi dalam analisis ini perlu juga diperhatikan bagaimana dan sejauh mana suatu
kebijaksanaan dan kegiatan bisnis suatu perusahaan membawa akibat yang yang
menguntungkan dan merugikan bagi kreditor, konsumen, pemasok, penyalur,
karyawan, masyarak at luas dan seterusnya. Ini berarti etika utilitarianisme sangat
sejalan dengan apa yang telah kita bahas sebagai pendekatan stakeholder .
Kedua, sering kali terjadi bahwa analisis keuntungan dan kerugian ditempatkan
dalam kerangka uang (satuan yang sangat mudah dikalkulasi). Namun dari segi
etika dan demi kepentingan bisnis yang berhasil dan tahan lama, kecenderungan
ini tidak memadai. Perlu juga mendapat perhatian serius adalah bahwa
keuntungan dan kerugian tidak haya menyangkut aspek finansial, melainkan juga
aspek-aspek moral: hak da kepentingan konsumen, hak karyawan, kepuasan
konsumen dan sebagainya. Jadi dalam etika utilitarianisme, manfaat harus
ditafsirkan secara luas dalam kerangka kesejahteraan, kabahagiaan, keamanan
sebanyak mungkin pihak terkait yang berkepentingan.
Ketiga, bagi bisnis yang baik, hal yang juga mendapat perhatian dalam analisis
keuntungan dan kerugian adalah keuntungan dan kerugian dalam jangka panjang.
Hal ini penting karena bisa saja dalam jangka pendek sebuah kebijaksanaan dan
tindakan bisnis tertentu sangat menguntungkan, tetapi ternyata dalam jangka
panjang merugikan atau paling kurang tidak memungkinkan perusahaan itu
bertahan lama. Karenanya, benefit yang menjadi sasaran utama semua
perusahaan adalah long term net benefits.

Biasanya unsur kedua dan ketiga sangat terkait erat. Aspek moral biasanya baru
terlihat menguntungkan dalam jangka panjang, sedangkan dalam jangka pendek
dirasakan sebagai merugikan. Membangun nama, citra, brand memang tidak hanya
didasarkan pada aspek keunggulan finansial, tapi terutama pada aspek moral.
Membutuhkan waktu yang lama untuk menempatkan kejujuran, mutu, pelay anan,
disiplin, dan semacamnya sebagai keunggulan suatu perusahaan baik ke dalam maupun
keluar, masyarakat lalu mempercayai perusahaan tersebut sebagai perusahaan yang
hebat dan punya nama yang dipertaruhkan.
Semua ini pada akhirnya bermuara pada satu hal : keuntungan yang akan datang
dengan sendirinya karena kepentingan da hak semua kelompok terkait yang
berkepentingan diperhatikan, karena aspek-aspek moral diperhatikan, dan karena yang
diutamakan adalah kepentingan jangka panjang dan bukan keuntungan sesaat.

ETIKA BISNIS – STIE BUDDHI
2010




25
Untuk apa mengeruk keuntungan sesaat dengan menekan gaji karyawan dibawah
standar yang wajar, tetapi pada akhirnya seluruh produk perusahaan itu diblokir dalam
pasar internasional, karena diproduksi dengan mengekploitasi manusia yaitu buruh ?

Untuk apa pula merugikan kepentingan konsumen dengan menawarkan barang
yang tidaks esuai dengan yang diiklankan, kendati mendatangkan keuntungan besar, tapi
dalam jangka panjang diprotes oleh konsumen, tidak hanya didalam negeri tetpi juga
secara internasional.


5. Kelemahan Etika Utilitarianisme

Kelemahan—kelemahan dari etika utilitarianisme, diantaranya adalah :

a. Pertama, manfaat merupakan sebuah konsep yang begitu luas sehingga dalam
kenyataan praktis malah menimbulkan kesulitan yang tidak sedikit.
Hal ini dikarenakan manfaat bagi manusia berbeda antara satu orang dengan
orang lain. Contoh : Masuknya industri kepedesaan bisa sangat
menguntungkan bagi sebagian penduduk desa, tetapi bagi yang lain justru
merugikan mengingat hilangnya udara bersih dan ketenangan di desa.
b. Kedua, persoalan klasik yang lebih filosofis sifatnya adalah bahwa etika
utilitarianisme tidak pernah menganggap serius suatu nilai tindakan pada dirinya
sendiri, dan hanya memperhatikan nilai suatu tindakan sejauh berkaitan dengan
akibatnya.
Padahal, dapat mungkin terjadi suatu tindaka pada dasarnya tidak baik,
tetapi ternyata mendatangkan keuntungan atau manfaat.
c. Ketiga, dalam keitan dengan itu, etika utilitarianisme tidak pernah mengganggap
serius kemauan atau motivasi baik seseorang.
Akibatnya, kendati seseorang punya motiv asi yang baik dalam melakukan
tindakan tertetu, tetapi ternyata membawa kerugian yang besar bagi banyak
orang, tindakan itu tetap dinilai tidak baik dan tidak etis. Padahal, dalam
banyak kasus, sering kita tidak bisa meramalkan dan menduga secara persis
konsekuensimatau akibat dari suatu tindakan. Dangat mungkin terjadi bahwa
akibat yang merugikan dari suatu tindakan tidak dilihat sebelumnya dan baru
diketahui lama sesudahnya.
d. Keempat, variabel yang dinilai tidak semuanya bisa dikuatifikasi. Karena itu, sulit
sekali mengukur dan memperbandingkan keuntungan dan kerugia hanya
berdasarkan variabel yang ada.
Secara khusus sulit untuk menilai dan membandingkan variabel moral yang
tidak bisa dikuantifikasi.

Polusi udara, hilangnya air bersih, kenyamanan dan keselematan kerja,
kenyamanan produk, dan sebagainya, termasuk hilangnya nyawa manusia
tidak bisa dikuantifikasi dan sulit untuk bisa dipakai dalam menilai baik
bruknya suatu tindakan berdasarkan manfaat-manfaat ini. Bagi orang tertetu
kematian anak atau saudaranya dalam rangka kerjanya bisa dikompensasi
dengan sepuluh juta rupiah. Namun bagi yang lainnya, berapa pun urang
kompensasi itu tidak bisa menebus nyawa anaknya.
e. Kelima, sendainya ketiga kriteria dari etika utilitarianisme salng bertentangan,
ada kesulitan cukup besar untuk menentukan prioritas diantara ketiganya.
Misalkan :
- Tindakan A manfaat 40 % dan dinikmati 60 % orang
- Tindakan B manfaat 60 % dan dinikmati 20 % - 40% orang
Manakah yang harus diprioritaskan : manfaat terbesar atau jumlah terbesar
dari orang-orang yang menikmati manfaat itu kendati manfaatnya lebih kecil ?



ETIKA BISNIS – STIE BUDDHI
2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar